LATIHAN SOAL KAJIAN MATEMATIKA SMA 1 (TRIGONOMETRI)

TUGAS KAJIAM MATEMATIKA SMA 1 MENYELESAIKAN LATIHAN SOAL 1-5

Nama Kelompok 4:

5A3

  1. Citra Murti Anggraini
  2. Anggi Meylia Saraswati
  3. Tika Nur Cahyani
  4. Reza Nike Oktariani
  5. Retno Argianti

 

1. Hitunglah dengan rumus sinus jumlah dan selisih sudut berikut:

a. Sin 1050

b. Sin 750 cos 150 – cos 750 sin 150

ab

2. Hitunglah nilai :

a. Cos 190

b. Cos 58

abc

3. Diketahui sin A = , cos B = , dan A dan B merupakan sudut lancip

a. Tentukan tan (A+B)

b. Tentukan tan (A – B)

abcd

abcde

  soal-no-4

abcdef

saol-no-5

abcdefg

Iklan

BARISAN DAN DERET

BARISAN DAN DERET

Makalah ini Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Kajian Matematika SMP 2

Dosen Pengampu:  Koryna Aviory, M.Pd

Oleh:

1.        Evaderika Ayu Artikasari (14144100085)
2.        Retno Argianti (14144100146)
3.        Septa Catur Larungkit (14144100081)

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

2016

BARISAN DAN DERET

  1. Pola Bilangan

     Pola adalah sebuah susunan yang mempunyai bentuk yang teratur dari bentuk yang satu ke bentuk berikutnya.

Bilangan adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan kuantitas (banyak, sedikit) dan ukuran (berat, ringan, panjang, pendek, luas) suatu objek. Bilangan ditunjukkan dengan suatu tanda atau lambang yang disebut angka.

Pola bilangan adalah bilangan yang tersusun dari bilangan lain yang mempunyai pola tertentu. Contoh bilangan-bilangan yang memiliki pola adalah nomor rumah di perumahan, rumah –rumah disebelah kiri bernomor 1,3,5,7,9, …, 87  sedangkan rumah-rumah disebelah kanan bernomor  2, 4, 6, 8, … , 88.  Kedua contoh tersebut merupakan bilangan yang berpola karena memiliki selisih 2 tiap sukunya.

Berikut ini adalah contoh pola-pola bilangan  yaitu :

  1. Pola Garis Lurus

Penulisan bilangan yang mengikuti pola garis lurus merupakan pola bilangan yang paling sederhana. Suatu bilangan hanya digambarkan dengan noktah yang mengikuti pola garis lurus. Misalnya,

  1. Pola Persegi Panjang

          Pada umumnya, penulisan bilangan yang didasarkan pada pola persegi panjang hanya digunakan oleh bilangan bukan prima. Pada pola ini, noktah-noktah disusun menyerupai bentuk persegi panjang. Misalnya,

  1. Pola Persegi

          Penulisan pola bilangan yang mengikuti pola persegi. Semua noktah digambarkan dengan jumlah yang sama.  Perhatikan uraian berikut.

Bilangan-bilangan tersebut merupakan bilangan kuadrat (pangkat dua).

  1. Pola Segitiga

     Bilangan pun dapat digambarkan melalui noktah yang mengikuti pola segitiga.

 

Bilangan yang mengikuti pola segitiga dapat dituliskan sebagai berikut.

1, 3, 6, 10, 15, 21, 28, 36, 45, …

Ternyata, bilangan-bilangan tersebut dibentuk mengikuti pola sebagai berikut:

  1. Pola Bilangan Ganjil dan Genap
  2. Pola bilangan ganjil memiliki aturan sebagai berikut.

(1)   Bilangan 1 sebagai bilangan awal.

(2) Bilangan selanjutnya memiliki selisih 2 dengan bilangan sebelumnya.

  1. Pola bilangan ganjil memiliki aturan sebagai berikut.

(1) Bilangan 1 sebagai bilangan awal.

(2) Bilangan selanjutnya memiliki selisih 2 dengan bilangan sebelumnya.

  1. Pola Bilangan Segitiga Pascal

          Bilangan yang berpola segitiga Pascal selalu diawali dan diakhiri oleh angka 1. Selain itu, di dalam susunannya selalu ada angka yang diulang. Adapun aturan-aturan untuk membuat pola segitiga Pascal adalah sebagai berikut:

  1. Angka 1 merupakan angka awal yang terdapat di puncak.
  2. Simpan dua bilangan di bawahnya. Oleh karena angka awal dan akhir selalu angka 1, kedua bilangan tersebut adalah 1.
  3. Selanjutnya, jumlahkan bilangan yang berdampingan. Kemudian, simpan hasilnya di bagian tengah bawah kedua bilangan tersebut.
  4. Proses ini dilakukan terus sampai batas susunan bilangan yang diminta.

B.     Barisan dan Deret

  1. Barisan Bilangan

Barisan bilangan adalah urutan bilangan yang dibuat dengan suatu aturan tertentu. Bilangan-bilangan yang menyusun barisan disebut suku.

Contoh:

  1. 0, 1, 2, 3, 4, 5, …

Aturan: menambahkan dengan 1 atau urutan bilangan cacah.

Suku ke-1 adalah 0, ditulis U1 = 0

Suku ke-2 adalah 1, ditulis U2 = 1

Suku ke-3 adalah 2, ditulis U3 = 2

Suku ke-4 adalah 3, ditulis U4 = 3, dan seterusnya.

  1. 20, 17, 14, 11, 8, …

Aturan: mengurangkan dengan 3.

U1 = 20, U2 = 17, U3 = 14, U4 = 11, U5 = 8, dan seterusnya.

  1. 1, 2, 4, 8, 16, 32, …

Aturan: mengalikan dengan bilangan 2.

U1 = 1, U2 = 2, U3 = 4, U4 = 8, U5 = 16, dan seterusnya.

  1. 486, 162, 54, 18, 6, …

Aturan: dibagi dengan bilangan 3.

U1 = 486, U2 = 162, U3 = 54, U4 = 18, U5 = 6, dan seterusnya.

  1. Deret

Perhatikan ,barisan berikut ini :

  1. 2 , 4 , 6, 8, 10, 12 ,… Un
  2. 1, 3, 7 , 9, … Un

Berdasarkan pola barisan contoh diatas , dapat diperoleh penjumlahan sebagai berikut :

  1. 2 + 4 + 6 + 10+ 12+ …+ Un ( deret )
  2. 1+ 3 + 7 + 9, … Un                       (deret )
Jika adalah suatu barisan  maka dinamakan deret

 

Penjumlahan suku-suku pada barisan-barisan tersebut seperti contoh diatas  dinamakan Deret. Sehingga

  1. Aritmatika
  2. Barisan Aritmatika
  3. Menentukan suku ke-n barisan aritmetika

Barisan bilangan dapat diteruskan sampai takterhingga. Untuk menentukan suku tertentu dari suatu barisan bilangan, diperlukan pola tertentu yang dapat memudahkan pencariannya. Pola tertentu tersebut merupakan rumus aljabar yang menghubungkan barisan bilangan yang diketahui dengan bilangan asli.

Contoh:

  • Bilangan asli 1, 2, 3, 4, 5, …, n

Bilangan ganjil

Aturan: barisan bilangan ganjil adalah menambahkan dengan 2 untuk setiap suku berikutnya.

U1 = 1  = (2  1) – 1

U2 = 3  = (2  2) – 1

U3 = 5  = (2  3) – 1

U4 = 7  = (2  4) – 1

U5 = 9  = (2  5) – 1

U6 = 11            = (2  6) – 1

.

.

.

Un = 2n-1

  • Bilangan asli 1, 2, 3, 4, 5 …, n

Barisan bilangan

Aturan: barisan bilangan ganjil adalah menambahkan dengan 4 untuk setiap suku berikutnya.

U1 = 6  = (4 1) + 2

U2 = 10= (4 2) + 2

U3 = 14= (4 3) + 2

U4 = 18= (4 4) + 2

U5 = 22= (4 5) + 2

U6 = 26= (4 6) + 2

.

.

.

  • Bilangan asli 1, 2, 3, 4, 5, …, n

Barisan bilangan

Aturan: barisan bilangan ganjil adalah menambahkan dengan 4 untuk setiap suku berikutnya.

U1 = 100          = 105 – (5 1)

U2 = 95            = 105 – (5  2)

U3 = 90            = 105 – (5  3)

U4 = 85            = 105 – (5  4)

U5 = 80            = 105 – (5  5)

U6 = 75            = 105 – (5  6)

.

.

.

Un = 105 – 5n

Dari ketiga contoh tersebut, terlihat baha suku-suku berurutan pada setiap barisan bilangan mempunyai selisih atau beda yang tepat. Barisan bilangan seperti itu disebut Barisa Aritmetika.

Jika nilai suku-sukunya makin lama makin besar maka disebut Barisan Aritmetika Naik dan jika nilai suku-sukunya makin lama makin kecil, maka disebut Baris Aritmetika Turun.

  1. Menentukan suku ke-n dengan rumus

Selain menggunakan pola hubungan barisan bilangan dengan bilangan asli, suku ke-n suatu barisan bilangan juga dapat dicari dengan menggunakan rumus.

  1. Barisan Aritmetika

Selisih atau beda tiap suku dimisalkan dan suku pertama dimisalkan .

Jadi, untuk menentukan suku ke-n (Un) dari barisan aritmetika digunakan rumus:

Dimana  = U1 dan b = U2 – U1 = U3 – U2 = U4 – U3 = …

Contoh:

  1. Diketahui barisan aritmetika 2, 5, 8, 11, 14, …

Tentukan rumus suku ke-n dan nilai suku ke-100

Penyelesaian:

Diketahui  = 2 dan          b = 5 – 2 = 3, maka

Un  =  + (n – 1)            U100     = 3(100) – 1

            = 2 + (n – 1)3                          = 300 – 1

            = 2 + 3n – 3                             = 299

            = 3n – 1

Jadi, Un = 3n – 1 dan U100 = 299

  1. Suatu suku ke-20 baris aritmetika yakni 225 sedangkan selisih tiap suku adalah 5. Tentukan suku pertama dan suku ke 10!

Penyelesaian:

Diketahui U20 = 225 dan b = 5, maka

Un  =  + (n – 1)b                          U10= 130 + (101)5

U20   =  + (20 – 1)5                           = 130 + 45=175

225  = + (19)5

225 =  + 95

    = 225 – 95

    = 130

Jadi, U1 = 130 dan U10 = 175

  1. Deret Aritmatika

Contoh deret :

  • 1 + 3+ 5 + 7 +9 + … + Un

Deret ini disebut deret aritmatika naik karena nilai Un  semakin besar.

  • 99 + 96 +93 +90 + …+ Un

Deret ini disebut deret aritmatika turun karena nilai Un  semakin kecil

        Untuk menentukan suku-suku  pada deret aritmatika dapat dilakukan sebagai berikut :

Misalkan , jumlah n  suku pertama deret tersebut dilambangkan dengan Sn maka

             +

Jadi , jumlah n suku pertama deret aritmatika adalah :

Oleh karena  , rumus Sn dapat dituliskan :

Contoh  :

  • Tentukan jumlah bilangan bulat antara 250 dan 1000 yang habis dibagi 7.

Penyelesaian :

Jumlah bilangan bulat antar 250 sampai 1000 yang habis dibagi 7 adalah

252 + 259 + 266 + … + 994 .

  • Sebuah perusahaan tas memproduksi 2000 buah tas di tahun pertama produksinya. Karena hasil penjualannya terus  meningkat maka  pemilik perusahaan menaikkan produksinya sebesar 10 % dari produksi awal tiap tahunnya. Tentukanlah :
  1. Jumlah tas yang diproduksi pada tahun ke-5 .
  2. Jumlah tas yang diproduksi hingga tahun ke-5

Penyelesaian :

Diketahui :   Suku pertama (a) = 2000

Beda (b) = 10% × 2000= 200

 n=5

Ditanyakan :

  1. Jumlah tas yang diproduksi pada tahun ke-5 (U5)
  2. Jumlah tas yang diproduksi sampai tahun ke-5 (S5)

Jawab :

  • Menentukan U5

  

Jadi jumlah tas yang  diproduksi pada tahun ke -5 adalah 2800.

  • Menentukan S5

Jadi jumlah tas yang diproduksi dari awal sampai tahun ke-5 adalah 12.000.

 

  1. Geometri
  2. Barisan Geometri

Barisan geometri yaitu barisan bilangan yang mempunyai perbandingan atau rasio tetap untuk dua suku berurutan. Bila rasio dari barisan lebig dari satu maka disebut Barisan Geometri Naik, dan jika kurang dari satu maka disebut Barisan Geometri Turun.

  1. Barisan geometri

Misalkan:

Jadi, untuk menentukan suku ke-n barisan geometri, digunakan rumus:

Dimana,  = U1 dan r =  =  = … (r = rasio)

  1. Contoh:
  • Diketahui barisan geometri 3, 6, 12, 24, 48, …

Tentukan suku ke 10

Penyelesaian:

 = 3

r =  = 2

U10 = 3 x 2­10-1

= 3 x 29

= 3 x 512

= 1536

Jadi, suku ke-10 barisan geometri diatas adalah 1536.

  • Diketahui suku ke-6 suatu barisan geometri adalah 486. Jika suku yang pertama 2, tentukan rasio dan rumus suku ke-n Penyelesaian:
  1. Menentukan rasio terlebih dahulu
  2. Menentukan rumus suku ke n

 

  1. Deret Geometri

Dari bagian sebelumnya ,kita ketahui bahwa jika  adalah barisan geometri maka suku-sukunya dapat ditulis   a, ar , ar2, ar3, … , ar n-1. Jika setiap suku barisan geometri tersebut dihubungkan dengan operasi “+” , maka kita akan mendapatkan barisan penjumlahan .

Barisan penjumlahan diatas dinamakan deret geometri .

Misalkan jumlah n suku pertama deret geometri dilambangkan dengan Sn maka berlaku hubungan  berikut :

Apabila baris ke-2 kita kurangkan dengan baris ke-1 maka akan di peroleh

Dengan demikian jumlah n suku pertama deret geometri adalah sebgai berikut :

Contoh :

  1. Tentukan jumlah delapan suku pertama adalah dari barisan 2, 6, 18, 54 ,…

Penyelesaian :

 sehingga

jadi jumlah  delapan suku pertamanya  adalah 6560

  1. Diketahui barisan geometri : 3, 6, 12, 24, 48, …, U Tentukan suku ketujuh (U7) dan jumlah tujuh suku pertamanya (U7).

Jawab:

  • Menentukan suku ke-7
  • Menentukan jumlah tujuh suku pertama

DAFTAR PUSTAKA

 

Avianti Nuniek. 2007 . Mudah Belajar Matematika. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Wagiyo, dkk.2008. Pegangan belajar matematika. Jakarta: PT Galaxy Puspa Mega

Djumanta,wahyusdin,dkk. 2008. Belajar Matematika Aktif dan Menyenagkan. Jakarta: PT.Setia Purna Invest

 

 

BAHASA INDONESIA MATEMATIKA

Mengenal Himpunan Matematika dengan Pita

Oleh : Retno Argianti

Matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang tidak di sukai siswa sekolah dasar hingga siswa menengah atas. Disadari atau tidak matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang sangat penting dari mata pelajaran lainnya. Pada setiap ujian nasional untuk kelulusan, matematika menjadi salah satu mata pelajaran wajib ada diantara beberapa mata pelajaran lainnya seperti Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Siswa sudah beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sangat sukar untuk dipahami, dibandingkan mata pelajaran lainnya seperti Bahasa Inggris. Tidak sedikit dari para wali murid berupaya agar anak-anaknya mendapat nilai yang memuaskan saat kelulusan, upaya wali murid adalah menambah jam belajar anak-anaknya diluar jam sekolah seperti, les private dirumah atau di salah satu tempat bimbel umum lainnya.

Sebenarnya matematika tidak serumit yang dibayangkan. Agar belajar matematika mudah dipahami, langkah pertama dan utama yang harus dilakukan adalah kemauan yang besar dari diri kita untuk belajar matematika. Jika kita merasa senang dan merasa bisa melakukannya maka kita akan berusaha keras untuk memahami matematika. Sebaliknya, jika kita sudah merasa pesimis dan merasa matematika itu pelajaran yang sulit, maka mendengar kata matematika saja sudah membuat kita malas.  Matematika yang sesungguhnya bukan belajar menghafal puluan bahkan ratusan rumus, tetapi matematika memahami satu rumus dan belajar mengotak-atik satu rumus itu sehingga menjadi beberapa rumus baru.

Belajar sambil bermain juga bisa diterapkan pada metode pembelajaran matematika. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat belajar matematika menjadi menyenangkan. Salah satunya adalah mengenal himpunan pada matematika menggunakan pita. Dengan cara ini maka belajar matematika menjadi lebih menyenangkan. Dan bertujuan agar siswa memiliki minat belajar matematika yang besar.

(Saipuja, 2013:http://www.erlangga.co.id/materi-belajar/smp/7855-pengertian-himpunan-.html).

Himpunan adalah kumpulan benda atau objek yang dapat didefinisikan dengan jelas. Benda atau objek dalam himpunan disebut elemen atau anggota himpunan. Dari definisi tersebut, dapat diketahui objek yang termasuk anggota himpunan atau bukan.

Pita yang digunakan memiliki beberapaa macam jenis dan warna-warni. Sediakan banyak pita untuk percobaan ini. Ada pita jepang, pita kain, dan pita kertas. Kelompokkan pita-pita tersebut menurut jenisnya, kelompokkan menurut warnanya, dan jika pita itu kita buat simpul menurut keinginan kita, maka pita juga dapat kita kelompokkan menurut simpulnya. Kita juga dapat mengkelompokkan pita menurut warna dan jenisnya masing-masing. Pengelompokkan ini disebut dengan himpunan. Himpunan pita menurut jenisnya, himpunan pita menurut warnanya dan himpunan pita menurut warna dan jenisnya. Jadi himpunan pita adalah suatu pengelompokkan menurut jenis atau warnanya.

Pengelompokan pita menurut jenisnya yaitu, yang pertama kelompok pita jepang atau bisa kita sebut sebagai himpunan pita jepang. Yang kedua adalah kelompok pita kain atau himpunan pita kain. Dan yang ketiga yaitu, kelompok pita kertas atau himpunan pita kertas. Itulah beberapa macam kelompok atau himpunan pita menurut jenisnya. Ada pula pengelompokan pita menurut warnanya. Pengelompokan ini antara semua jenis pita boleh dijadikan satu atau dengan kata lain boleh digabung dan hanya di kelompokkan menurut warna. Pengelompokan pita warna merah atau himpunan pita merah, pengelompokan pita warna kuning atau himpunan pita kuning dan masih banyak warna-warna lain yang dapat digunakan.

Ada pula pengelompokan pita berdasar jenis dan warnanya, pengelompokan jenis pita jepang warna merah atau himpunan pita jepang warna merah, kelompok pita jepang warna kuning atau himpunan pita jepang warna kuning. Pengelompokan jenis pita kain warna merah atau himpunan pita kain merah, kelompok jenis pita kain warna kuning atau himpunan pita kain kuning. Pengelompokan pita kertas warna merah atau himpunan pita kain merah, dan kelompok pita kain warna kuning atau himpunan pita kertas warna kuning. Dan masih banyak yang dapat di lakukan dengan menggunakan pita dengan berbagai jenis dan warna.

Tujuan menggunakan benda pita ini untuk mempermudah siswa untuk memahami apa yang dimaksud dengan himpunan itu sendiri. Dalam matematika bukan hanya himpunan bilangan ganjil dan bilangan genap saja, tetapi semua dapat kita kelompokkan menurut dengan jenis dan warnanya. Pita ini benda yang paling mudah kita temui, bendanya sangat sederhana, dan siswa dapat menemukannya dengan mudah. Menggunakan pita adalah cara paling mudah untuk belajar himpunan pada matematika. Pita memiliki berbagai warna dan beberapa jenis, inilah yang sangat membantu siswa untuk mengelompokkannya dengan sangat mudah dan menyenangkan.

Upaya ini ditujukan untuk siswa sekolah dasar kelas dua dan kelas tiga untuk mengenalkan materi himpunan pada matematika. Guru dapat merubah cara pembelajaran yang lama dengan cara yang baru dan yang lebih menyenangkan. Siswa juga merasa lebih mudah untuk memahami materi himpunan. Dunia siswa kelas dua dan tiga masih pada dunia yang suka bermain, maka dari itu dengan metode bermain sambil belajar ini diharapkan siswa bisa lebih mengerti dan semangat untuk belajar himpunan matematika. Cara ini menjadi salah satu cara alternative paling mudah yang bisa guru sampaikan dan ajarkan pada siswa-siswanya.

Dengan adanya metode pembelajaran yang baru dan menyenangkan dapat membuat minat belajar anak menjadi lebih besar. Khususnya untuk belajar mata pelajaran matematika. Yang sebelumnya sudah beranggapan bahwa matematika itu sebagai pelajaran yang sulit, kini dapat mengubah pandangannya bahwa matematika adalah pelajaran yang menyenangan dan mudah dipahami. Para wali murid pun bisa merasa tenang bahwa anak-anaknya juga dapat menguasai pelajaran matematika.

 

 

Daftar Pustaka

Saipuja Matematika. (2014, june 3). Saipuja Matematika SMP/Mts jilid 1. Retrieved from

http://www.erlangga.co.id/materi-belajar/smp/7855-pengertian-himpunan-.html.

PENGERTIAN DAN UNSUR UNSUR PUSTAKAWAN

PUSTAKAWAN

Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Ilmu Pendidikan dan Profesi Pendidikan

Dosen Pengampu : Ika Ernawati,  M. Pd

 logo

 

Disusun Oleh :

 

Widyaningsih

14144100100

Siti Ratna Sari

14144100101

Retno Argianti

14144100146

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

2015


KATA PENGANTAR

 

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Ilmu Pendidikan dan Profesi Pendidikan yang berjudul “Pustakawan”  dengan lancar. Penulisan makalah ini merupakan kewajiban dan sebagai tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan dan Profesi Pendidikan bagi mahasiswa program studi pendidikan matematika yang kami ajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam penilaian.

Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian laporan ini, kami banyak mendapatkan bimbingan dan nasehat, serta bantuan dari berbagai pihak. Berkaitan dengan hal tersebut kami mengaturkan banyak terima kasih kepada :

  1. Ibu Ika Ernawati, Pd yang sudah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada kami,
  2. Bapak dan ibunda kami tercinta, terima kasih untuk nasihat-nasihatnya,
  3. Teman-teman dan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan laporan ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan hal itu disebabkan sangat terbatasnya kemampuan dan ilmu yang dimiliki oleh penulis. Oleh karena itu, kami menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun dan positif. Semoga hasil laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak yang berkepentingan.

 

Yogyakarta, 19 September 2015

Penulis

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL.. i

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. iii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

  1. Latar Belakang. 1
  2. Tujuan. 2

BAB II PEMBAHASAN.. 3

  1. Pengertian Pustakawan. 3
  2. Peraturan dan UU.. 5
  3. Syarat-Syarat 6
  4. Sistem Penggajian. 7
  5. Tugas-Tugas. 8
  6. Pembinaan Pegawai 11
  7. Pengembangan karir. 13
  8. Organisasi 14
  9. Kode Etik. 17

BAB III KESIMPULAN.. 23

DAFTAR PUSTAKA.. 24

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Pada dasamya perpustakaan merupakan tempat  sumber informasi yang sangat berguna apabila informasi di dalamnya dimanfaatkan. Tidak hanya perpustakaan di lingkungan pandidikan saja, namun di perpustakaan manapun inforrnasi akan didapatkan. Kegiatan penyajian informasi dapat dirasakan sukses apabila didukung dengan sistem dan cara pengolahan bahan pustaka, pelayanan, penyajian yang baik.

Mengingat betapa pentingnya perpustakaan dalam mengumpulkan, mengolah dan manyajikan informasi, perpustakaan dituntut untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik. Dengan demikian perpustakaan mempunyai fungsi ganda, yaitu di satu pihak harus dapat menampung semua produk-produk informasi yang dihasilkan oleh masyarakat, di lain pihak perpustakaan dituntut untuk menyampaikan berbagai informasi kepada masyarakat. Untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut diperlukan sumber daya manusia yang berprestasi dalam mengembangkan dan memajukan perpustakaan.

Tugas dan fungsi perpustakaan dilaksanakan oleh Pustakawan. Tanpa ada orang yang melakukan kegiatan pengadaan, pengelolaan, penyimpanan dan pelayanan, tidak mungkin perpustakaan akan beroperasi dengan baik. Semua pekerjaan tersebut merupakan tugas pustakawan ( librarians).

Perkembangan teknologi informasi  saat ini mempengaruhi paradigma perpustakaan. Informasi menjadi hal yang sangat luar biasa, bahkan ada ungkapan “barang siapa menguasai informasi maka akan menggenggam dunia” . Tentu saja perpustakaan sebagai pusat informasi perlu menyesuaikan diri seiring dengan gencarnya arus informasi yang ada.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud pengertian pustakawan?
  2. Apa saja UU yang mengatur pustakawan?
  3. Apa saja syarat menjadi pustakawan?
  4. Bagaimana sistem penggajian pustakawan?
  5. Apa saja tugas-tugas pustakawan?
  6. Bagaimana pembinaan pegawai pustakawan?
  7. Bagaimana pengembangan karir pustakawan?
  8. Apa saja organisasi pustakawan?
  9. Apa saja kode etik pustakawan?

C.      Tujuan

  1. Mengetahui dimaksud pengertian pustakawan
  2. Mengetahui apa saja UU yang mengatur pustakawan
  3. Mengetahui apa saja syarat menjadi pustakawan
  4. Mengetahui bagaimana sistem penggajian pustakawan
  5. Mengetahui apa saja tugas-tugas pustakawan
  6. Mengetahui bagaimana pembinaan pegawai pustakawan
  7. Mengetahui bagaimana pengembangan karir pustakawan
  8. Mengetahui apa saja organisasi pustakawan
  9. Mengetahui apa saja kode etik pustakawan

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.      Pengertian Pustakawan

Pustakawan ialah seseorang yang bekerja di perpustakaan dan membantu orang menemukan buku, majalah, dan informasi lain. Pada tahun 2000-an, pustakawan juga mulai membantu orang menemukan informasi menggunakan komputer, basis data elektronik, dan peralatan pencarian di internet. Terdapat berbagai jenis pustakawan, antara lain pustakawan anak, remaja, dewasa, sejarah, hukum, dsb. Pustakawan wanita disebut sebagai pustakawati.

Untuk menjadi seorang pustakawan, seseorang perlu menempuh pendidikan tentang perpustakaan setingkat S2 maupun D2. Kebanyakan pustakawan bekerja di perpustakaan yang ada di sekolah, perguruan tinggi, ataupun tingkat kota, provinsi, maupun negara. Beberapa pustakawan bekerja untuk perusahaan swasta untuk membantu mereka mengatur dokumen dan laporan. Terdapat pula pustakawan yang bekerja untuk orang tuli maupun di penjara.

  1. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia pustakawan adalah orang yang bergerak di bidang perpustakaan atau ahli perpustakaan.
  2. Menurut kode etik Ikatan Pustakawan Indonesia dikatakan bahwa yang disebut pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan
  3. Menurut kamus istilah perpustakaan karangan Lasa, H.S. Librarian – pustakawan, penyaji informasi adalah tenaga profesional dan fungsional di bidang perpustakaan, informasi maupun dokumentasi. Dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pustakawan adalah orang yang memiliki pendidikan perpustakaan atau ahli perpustakaan atau tenaga profesional di bidang perpustakaan dan bekerja di perpustakaan. Jadi pustakawan adalah seseorang yang profesional atau ahli dalam bidang perpustakaan.
  4. Menurut Pandji Amoraga dalam psikologi kerja bahwa profesional mengharuskan tidak hanya pengetahuan dan keahlian khusus melalui persiapan dan latihan, tetapi dalam arti profesional terpaku juga suatu panggilan, suatu calling, suatu strong inner impulse yang pertama adalah unsur keahlian dan kedua unsur panggilan. Sehingga seorang profesional harus memadukan dalam diri pribadinya kecakapan teknik yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaannya, dan juga kematangan etika. Penguasaan teknik saja tidak membuat seseorang menjadi profesional keduanya harus manunggal. Jadi seorang pustakawan yang profesional tidak hanya dituntut untuk menguasai penguasaan teknik perpustakaan saja, tetapi juga harus mempunyai kematangan etika, harus merasa terpanggil untuk menjadi pustakawan karena pustakawan adalah pelayan masyarakat yang selalu berhadapan dengan berbagai kalangan masyarakat. Sehingga dengan demikian pustakawan akan disenangi oleh masyarakat pengguna perpustakaan.
  5. Poerwadarminta dalam Aziz (2006:44) menambahkan bahwa, “Pustakawan adalah ahli perpustakaan. Dengan pengertian tersebut berarti pustakawan sebagai tenaga yang berkompeten dibidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi”. Selanjutnya Aziz (2006:44) menambahkan bahwa, “Pustakawan merupakan tenaga profesi dalam bidang informasi, khususnya informasi publik, informasi yang disediakan merupakan informasi publik melalui lembaga kepustakawanan yang meliputi berbagai jenis perpustakaan”.

 

B.       Peraturan dan UU

Seorang pustakawan harus mengetahui tentang undang-undang dan peraturan-peraturan tentang perpustakaan. Karena pustakawan merupakan suatu bentuk profesi pekerjaan yang harus memiliki keahlian husus. sehingga ia harus mengetahui perkembangan dunia profesi kerjanya. Dengan mengetahui undang-undang dan peraturan-peraturan tentang perpustakaan, maka seorang pustakawan juga dapat mengetahui batasan-batasan pekerjaan ang harus ia kerjakan. Diantara undang-undang dan peraturan-perauran yang harus diketahui oleh seorang pustakawan antara lain adalah:

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan
  2. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 3 Tahun 2001 Tentang Perpustakaan Desa/Kelurahan Menteri Dalam Negeri dan Otonmi Daerah
  3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1990 Tentang Serah- Simpan Karya Cetak Dan Karya Rekam
  4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Pelaksanaan Serah-Simpan Dan Pengelolaan Karya Rekam Film Ceritera Atau Film Dokumenter
  5. KEPPRES 50/1997 Tentang: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
  6. KEPPRES 67/2000 Tentang: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
  7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2007 Tentang Tunjangan Jabatan Fungsional Pustakawan
  8. Keputusan Mentereri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 132/KEP/M.PAN/12/2002 Tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kredtinya dan Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional
  9. Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 23 Tahun 2003 dan No. 21 Tahun 2003

C.      Syarat-Syarat

Berdasarkan peraturan terbaru dalam Keputusan MENPAN Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002, Pasal 21 dan Pasal 22, Bab VIII , persyaratan untuk dapat diangkat dalam:

Persyaratan-persyaratan untuk diangkat dalam Jabatan Pustakawan tingkat terampil adalah sebagai berikut:

  1. Berijazah serendah-rendahnya Diploma II perpustakaan dokumentasi dan informasi atau Diploma dalam bidang lain.
  2. Bagi Diploma II bidang lain harus mengikuti terlebih dahulu Diklat calon pustakawan tingkat terampil.
  3. Serendah-rendahnya menduduki pangkat Pengatur Muda tingkat I, golongan ruang II B
  4. Bertugas pada unit perpustakaan dokumentasi dan informasi sekurang-kurangnya 2 tahun berturut-turut.
  5. Setiap unsur penileian pelaksanaan pekerjaan (DP-3), sekurang-kurangnya baik dalam 1 tahun terakhir.
  6. Berdasarkan pada formasi jabatan pustakawan yang ditetapkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara.
  7. Memenuhi jumlah angka kredit minimal yang ditentang oleh jenjang jabatan/pangkatnya
  8. Usia maksimal 5 tahun sebelum mencapai usia pensiun berdasarkan jabatan terakhir.

Persyaratan-persyaratan untuk diangkat dalam jabatan pustakawan tingkat ahli adalah sebagai berikut:

  1. Berijazah serendah-rendahnya S1 ilmu perpustakaan dokumentasi dan informasi atau S1 bidang lain.
  2. Bagi S1 bidang lain harus mengikuti Diklat calon pustakawan tingkat ahli.
  3. Serendah-rendahnya menduduki pangkat Panitia Muda, golongan ruang III A.
  4. Bertugas pada unit perpustakaan dokumentasi dan informasi sekurang-kurangnya 2 tahun berturut-turut.
  5. Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan (DP-3) sekurangnya-kurangnya baik dalam 1 tahun terakhir.
  6. Berdasarkan kepada formasi jabatan pustakawan yang ditetapkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara.
  7. Memenuhi jumlah angka kredit minimal yang ditetapkan untuk jenjang jabatannya/pangkatnya.
  8. Usia maksimal 5 tahun sebelum mencapai usia pensiun berdasarkan jabatan terakhir.

 

D.      Sistem Penggajian

 

sp-1sp2-2

E.       Tugas-Tugas

Untuk memenuhi persyaratan jabatan fungsional tersebut, maka seorang pustakawan harus menjalankan tugasnya sesuai dengan job deskripsinya. Adapun tugas pokok Pustakawan yaitu sebagai berikut:

  1. Pustakawan Tingkat Terampil.

Pustakawan Tingkat Terampil adalah Pustakawan yang memiliki ijazah serendah-rendahnya D2 Perpustakaan, Dokumentasi, dan Informasi, atau diploma lain yang pernah mengikuti Diklat Kepustakawanan.

Adapun  tugas-tugas pustakawan tingkat terampil  yaitu:

  1. Pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka atau sumber Informasi. Yang kegiatannya meliputi:
  • Pengembangan Koleksi

Yaitu kegiatan yang ditujukan untuk mengadakan, memelihara, ataupun menjaga koleksi agar sesuai dengan kebutuhan pemustaka.

Yang kegiatannya meliputi: melakukan survey minat pemakai, mengadakan,  menyeleksi, mengevaluasi dan menyiangi bahan pustaka.

  • Pengolahan Bahan Pustaka atau Koleksi

Yaitu kegiatan mendeskripsikan bahan pustaka serta membuat sarana dalam kegiatan Temu Kembali, agar para pemustaka lebih mudah dalam menemukan koleksi yang dicarinya. Dalam hal ini pustakawan tugasnya meliputi: menginventaris bahan pustaka, mengecap koleksi, menganalisis subjek, menentukan Nomor Panggil, dan membuat katalog (Katalogisasi).

  • Penyimpanan dan pelestarian Bahan Pustaka

Kegiatan ini adalah menjaga penempatan koleksi di rak sesuai dengan Nomor Panggilnya atau subeknya agar para pemustaka dapat lebih mudah menemukan koleksi yang dicari (Temu Kembali Infomasi). Selain itu, dalam hal ini pustakawan bertanggung jawab atas keamanan suatu koleksi.

  • Pelayanan Informasi.

Seorang Pustakawan dalam hal ini bertugas memberikan bantuan ataupun jasa kepada para pemustaka yang berupa informasi ataupun jasa lainnya. Bantuan atau jasa tersebut dapat berupa: layanan sirkulasi, layanan referensi, pendidikan pemakai (user education), membantu dalam kegiatan temu kembali iformasi, membuat statistik pengunjung,  layanan perpustakaan keliling, dan lain sebagainya.

 

  1. Pemasyarakatan Perpustakaan, Dokumentasi, dan Informasi.

Tugas dari kegiatan ini adalah:

  1. Penyuluhan
  • Penyuluhan sendiri dibagi atas dua bagian, yaitu : Penyuluhan kegunaan dan pemanfaatan Perpustakaan, Dokumentasi, dan Informasi. Yaitu Pustakawan bertugas memberikan pengertian atau penjelasan  kepada para masyarakat pengguna mengenai pentingnya sebuah Perpustakaan, Dokumentasi, dan Informasi. Sehingga mereka dapat termotivasi ataupun tertarik untuk mengunjungi perpustakaan tersebut. Dengan demikian pihak perpustakaan akan merasa bangga, karena koleksinya dapat dimanfaatkan/didayagunakan oleh para pemustaka.
  • Penyuluhan Pengembangan Perpustakaan, Dokumentasi, dan Informasi, yaitu memberikan penjelasan atau bimbingan kepada pengelola perpustakaan mengenai strategi ataupun cara yang dilakukan untuk meningkatkan mutu dari perpustakaan khususnya dalam melayani para pemustaka.

Publitas adalah mensosialisasikan informasi tentang kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan, dokumentasi dan informasi kepada masyarakat luas melalui media cetak ataupun elektronik seperti artikel, brosur, film, slide, situs-web dan lain-lain.

Dalam hal ini pustakawan dapat memperlihatkan kepada masyarakat tentang aktivitas, hasil kegiatan, dan kemampuan sumber informasi perpustakaan, dokumentasi dan informasi disertai pemberian keterangan/penjelasan dengan mempergunakan bahan peraga. kegiatan ini bertujuan agar para masyarakat dapat tertari dengan perpustakaan tersebut.

 

  1. Pustakawan Tingkat Ahli

Pustakawan Tingkat Ahli adalah Pustakawan yang memiliki dasar pendidikan minimal S-1 saat pertama kali diangkat sebagai pustakawan. Adapun tugas pokoknya yaitu sama dengan tugas Pustakawan Tingkat Terampil tetapi ditambah dengan Pengkajian Pengembangan perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

Pengkajian pengembangan perpustakaan, dokumentasi dan informasi adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data berdasarkan metodologi tertentu untuk mengetahui kondisi atau akar permasalahan yang ada, dan hasilnya di informasikan kepada pihak lain dalam bentuk laporan. Kegiatan ini meliputi penyusunan instrumen, pengumpulan, pengolahan data, analisis dan perumusan hasil, serta evaluasi dn penyempurnaan hasil kajian.

 

F.       Pembinaan Pegawai

Pembinaan adalah Usaha atau tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Pembinaan pegawai pustakawan suatu kegiatan yang dilakukan secara terus – menerus agar segala sesuatunya berjalan pada jalur dan rel yang benar sehingga dapat mengikuti perkembangan yang terjadi disekitarnya.

Menurut Intruksi Presiden No.15 tahun 1974, Tanggal 13 september 1974, pasal 4 bahwa pembinaan secara menyeluruh mencakup: “Perencanaan, Pengaturan, Pengendalian, dan Penilaian Kegiatan” yang berhubungan dengan suatu sistem tertentu.

Tujuan Pembinaan Pustakawan Dibagi menjadi dua:

Tujuan umum

  1. Meningkatkan mutu perpustakaan
  2. Meningkatkan Relevansi perpustakaan dengan pembangunan
  3. Meningkatkan daya guna dan hasil guna perpustakaan

Tujuan Khusus

  1. Mewujudkan suatu sistem perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan
  2. Menyelenggarakan program perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan
  3. Mewujudkan mutu perpustakaan yang standar sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
  4. Menyediakan berbagai jenis koleksi perpustakaan sesuai dengan prioritas yang digariskan
  5. Mengatur dan menyelenggarakan perpustakaan perpustakaan yang sesuai dengan prinsip – prinsip managemen perpustakaan.

Layanan yang baik adalah yang dapat memberikan rasa senang dan puas kepada pemakai. Bentuk riil layanan perpustakaan tersebut antara lain :

  1. Layanan yang memberikan sesuai dengan kebutuhan / yang dikehendaki pemakai
  2. Berorientasi kepada pemakai
  3. Berlangsung cepat waktu dan tepat sasaran.
  4. Berjalan Mudah dan sederhana
  5. Murah dan ekonomis
  6. Menarik dan menyenangkan, dan menimbulkan rasa simpati.
  7. Bervariatif
  8. Mengundang rasa ingin kembali
  9. Ramah tamah
  10. Bersifat informatif, membimbing, dan mengarahkan, tetapi tidak bersifat menggurui.
  11. Mengembangkan hal – hal yang baru / inovatif.
  12. Mampu berkompetisi dengan layanan di bidang yang lain.
  13. Mampu menumbuhkan rasa percaya bagi pemakai dan bersifat mandiri.

 

G.      Pengembangan karir

Jenis-jenis jabatan fungsional pustakawan terbagi dua, yaitu:

  1. Jabatan fungsional jalur terampil

Jalur terampil meliputi:

  • Pustakawan pelaksana : Golongan ruang II/b, II/c dan II/d
  • Pustakawan pelaksana lanjutan : Golongan ruang III/a dan III/b
  • Pustakawan penyelia : Golongan ruang III/c dan III/d
  1. Jabatan fungsional jalur ahli

Jalur ahli meliputi:

  • Pustakawan Pertama : Golongan ruang III/a dan III/
  • Pustakawan Muda : Golongan ruang III/c dan III/d
  • Pustakawan Madya : Golongan ruang IV/a, IV/b dan IV/c
  • Pustakawan Utama : Golongan ruang IV/d dan IV/e

Unsur-unsur jabatan fungsional pustakawan

Pustakawan professional dituntut menguasai bidang ilmu kepustakawanan, memiliki keterampilan dan melaksanakan tugas pustakawan yaitu dengan motivasi yang tinggi yang dilandasi oleh sikap dan kepribadian yang menarik demi mencapai kepuasaan pemakai perpustakaan sebagai suatu profesi. pejabat fungsional pustakawan dituntut pula meningkatkan keahlian dan keterampilan Meliputi beberapa kegiatan antara lain sebagai berikut:

 

  1. Unsur-unsur Utama:
  • Pendidikan
  • Pengorganisasian dan pendayagunaan karya/koleksi bahan pustaka atau sumber informasi.
  • Pemasyarakatan perpustakaan dokumentasi dan informasi.
  • Pengkajian pemgembangan perpustakaan, dokumentasi dan informasi.
  1. Unsur-unsur Penunjang:
  • mengajar
  • Melatih
  • Membimbing
  • Ikut serta dalam seminar
  • Menjadi tim penilai jabatan perpustakaan, dll.

Dengan peningkatan keahlian dan keterampilan pejabat fungsional pustakawan melalui berbagai kegiatan unsur utama dan unsur penunjang tersebut diatas, setidaknya diharapkan dapat merupakan katalisator pendorong untuk mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya melalui pengguna jasa perpustakaan dan kepustakawananya.

 

H.      Organisasi

Beberapa pustakawan yang mendapatkan beasiswa ke luar negeri, setelah pulang ke Indonesia membentuk organisasi pustakawan walaupun sifatnya masih lokal, diantaranya Asosiasi Perpustakaan Indonesia (API) berdiri di Jakarta pada tahun 1953; Perhimpunan Ahli Perpustakaan di Yogyakarta dan Bogor.

  1. PAPSI(Perhimpunan Ahli Perpustakaan Seluruh Indonesia)

Berdiri pada tanggal 25 Maret 1954, pada saat penyelenggaraan Konferensi Perpustakaan Seluruh Indonesia, ditunjuk sebagai Ketua Rustam Sutan Palindih dan Ketua II Raden Patah dari Perpustakaan Negara Semarang. Tujuan didirikannya PAPSI:

  • Mempertinggi pengetahuan Ilmu perpustakaan ≈ mempertinggi derjat anggotanya.
  • Menanam rasa cinta terhadap perpustakaan dan buku kepada umum.
  1. PAPADI(Perhimpunan Ahli Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia).

Kongres pertama PAPSI tanggal 5 s.d. 7 April 1956 memutuskan nama organisasi tersebut menjadi Perhimpunan Ahli Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia,susunan pengurusnya sama dengan PAPSI. PAPADI menyelenggarakan Kongres pertama di Jakarta pada tanggal 19 s.d. 22 Oktober 1957.

Pasal 2 Anggaran Dasar PAPADI menyatakan :

  • Mempertinggi pengetahuan tentang Ilmu Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi dan ilmu-ilmu lain yang bersangkutan.
  • Memperluas dan menanam pengertian terhadap perpustakaan, arsip dan dokumentasi.
  • Membela kepentingan dan mempertinggi derajat para anggota.
  1. APADI

Anggota PAPADI yang tersebar di kota Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta,Semarang, Medan serta berbagai kota di Indonesia Timur dan Sunda Kecil (sekarang Nusa Tenggara). Tanggal 12 Juli 1962 dilaksanakan pertemuan antar cabang di Jakarta, pada saat itu disepakai perubahan nama menjadi Asosiasi Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia (APADI).

Dalam Anggaran dasar APADI pasal 3, dintakan bahwa tujuan asosiasi sbb. :

  • Mengusahakan agar tercapai kesempurnaan sistem dan isi perpustakaan, arsip dan dokumentasi
  • Mempertinggi pengetahuan tentang ilmu perpustakaan, arsi dan dokumentasi dan ilmu-ilmu lain yang bersangkutan.
  • Memperbanyak dan menanam pengertian terhadap perpustakaan, arsip dan dokumentasi.
  • Mempertinggi derajat para anggota.

Cabang APADI : Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya, Yogyakarta, Makasar, Manado, Denpasar, Mataram dan Kupang.

  1. HPCI

Karena kekosongan kegiatan APADI, dan tersedianya anggaran untuk perpustakaan menyebabkan beberapa pustakawan yang  bekerja pada perpustakaan khusus mengambil inisiatif mendirikan organisasi pustakawan yang mampu menampung aspirasi pustakawan perpustakaan khusus. Pada tanggal 5 Desember 1969 di Jakarta beridiri Himpunan Pustakawan Chusus Indonesia.  Tujuan HPCI dalam pasal 2 Anggaran Dasar :

  • Membina perkembangan perpustakaan khusus di Indonesia.
  • Memupuk hubungan antar anggota.

Kegiatan yang dilakukan mencakup diskusi ilmiah, ceramah serta menerbitkan Majalah Himpunan Pustakawan Khusus Indonesia.

  1. IPI (Ikatan Pustakawan Indonesia)

Adanya berbagai oraganisasi pustakawan tidak selalu berdampak baik bagi profesi pustakawan, maka beberapa pustakawan mulai mengadakan penjajagan pembentukan organisasi  porofesi yang bertaraf nasional. Pada bulan Januari 1973 di adakan pertemuan penjajagan di Bandung, yang dihadiri oleh sisa Pengurus Besar APDI Pusat, APADI Cabang Jakarta, Bogor, Bandung, Himpunan Pustakawan Chusus Indonesia serta Himpunan Pustakawan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada pertemuan itu dihasilkan kesepakatan untuk melangsungkan Kongres Pustakwan se-Indonesia. Kongres tersebut dilaksanakan tanggal 5 s.d. 7 Juli 1973. Hasil Kongres ialah peleburan berbagai organisasi pustakawan menjadi satu wadah tunggal Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). Dengan tujuan yang tertuang dalam pasal 5 Anggaran Dasar IPI, sbb. :

  • Menghimpun, menampung, serta menyalurkan aspirasi dan kreasi dari mereka yang berprofesi dalam ilmu perpustakaan dan ilmu pengetahuan lainnya yng berkaitan dan atau bekerja dalam bermacam-macam jenis perpustakaan atau badan-bdan lain yang ruang lingkungannya berkaitan dengan perpustakaan.
  • Mengusahakan mereka yang termasuk dalam pasal 5 ayat 1 Anggaran Dasar ini pada tempat yang semestinya di dalam masyarakat.
  • Meningkatkan, mengembangkan dan mengamalkan ilmu perpustakaan demi kemajuan pendidikan, ilmu pengetahuan serta kesejahteraan masyarakat.
  • Menempatkan ilmu perpustakaan dan ilmu pengetahuan lainnya yang berkaitan pada tempat yang semestinya di antara ilmu pengetahuan.

 

I.         Kode Etik

  1. Sejarah Kode Etik Pustakawan Indonesia

Kode etik pustakawan di Indonesia lahir setelah melalui berbagai perkembangan selama dua puluh tahun melalui kongres yang diadakan di berbagai kota. IPI menyadari perlu adanya kode etik yang dapat dijadikan sebagai pedoman perilaku bagi para anggotanya dalam melaksanakan tugas melayani masyarakat.

Penyususunan kode etik pustakawan dimulai sejak tahun 1993 , kemudian diperbaharui pada tahun 1997 dan disempurnakan kembali pada 19 september 2002 bersamaan dengan kongres IPI yang ke IX di Batu, Malang Jawa Timur. Kode etik pustakawan terdiri dari :

  1. Pendahuluan
  2. kewajiban pustakawan kepada bangsa dan Negara
  3. kewajiban kepada masyarakat
  4. kewajiban kepada profesi
  5. kewajiban kepada rekan sejawat
  6. kewajiban terhadap pribadi
  7. sanksi pelanggaran kode etik.

Meskipun kode etik IPI adalah norma yang harus dijadikan pedoman dalam menjalankan profesi, sampai dengan kongres terakhir (2002), penerbitan terpisah dari AD/ART IPI. Kode etik hakekat dapat memberikan perlindungan kepada anggota profesi sekaligus juga dapat menghukum anggotanya yang melanggar kode etik.

  1. Tujuan Kode Etik Pustakawan

Tujuan dari kode etik pustakawan adalah:

  1. Meningkatkan pengabdian pustakawan kepada Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan Negara;sebagai makhluk ilahi, serta warga Negara yang baik. Dengan dituntuk kode etik, pustakawan dapat memberikan pengabdiannya sebagai hamba dan berbakti kepada sesame, terutama untuk bangsa dan Negara.
  2. Menjaga martabat pustakawanan. Pustakawan harus menjaga martabat dan kehormatan nya dengan berlandaskan nilai-nilai moral yang dianut oleh masyarakat.
  3. Meningkatkan mutu profesi pustakawan. Untuk dapat memberikan layanan kepustakawanan terhadap masyarakat, maka anggota profesi berkewajiban untuk meningkatkan mutu profesi dan anggota melalui berbagai kegiatan, baik melalui pendidikan formal,non formal atau informal.
  4. Meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan, terutama layanan informasi kepada masyarakat. Pustakawan sebagai pekerja informasi harus berupaya agar kuantitas dan kualitas informasi yang diberikan selalu meningkat sesuai dengan kebutuhan pengguna.

 

  1. Fungsi Kode Etik Pustakawan

Menurut Fankel ( Bojner, 1991) fungsi kode etik adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai pedoman bagi kelompok professional ketika menentukan masalah dalam praktik
  2. Sebagai sumber evaluasi bagi masyarakat dan menjadikan mereka mengetahui apa yang dapat diharapkan dari organisasi profesi tersebut
  3. Memberi kebanggaan pada profesi dan memperkuat identitas profesi
  4. Memperbaiki reputasi profesi dan kepercayaan masyarakat
  5. Melindungi pengaruh profesi
  6. Menghentikan tindakan yang tidak eis dengan menyediakan sanksi atau dengan melaporkan tindakan yang tidak etis tersebut
  7. Menyediakan sistem untuk mendukung profesi terhadap permintaan yang tidak logis dari orang luar.
  8. Merupakan forum keputusan dalam debat antar anggota atau antara anggota dengan orang luar.
  9. Kode etik Pustakawan

Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari.

Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional. Ketaatan tenaga profesional terhadap kode etik merupakan ketaatan naluriah yang telah bersatu dengan pikiran, jiwa dan perilaku tenaga profesional. Jadi ketaatan itu terbentuk dari masing-masing orang bukan karena paksaan. Dengan demikian tenaga profesional merasa bila dia melanggar kode etiknya sendiri maka profesinya akan rusak dan yang rugi adalah dia sendiri.

Kode etik disusun oleh organisasi profesi sehingga masing-masing profesi memiliki kode etik tersendiri. Misalnya kode etik dokter, guru, pustakawan, pengacara, Pelanggaran kode etik tidak diadili oleh pengadilan karena melanggar kode etik tidak selalu berarti melanggar hukum. Sebagai contoh untuk Ikatan Dokter Indonesia terdapat Kode Etik Kedokteran. Bila seorang dokter dianggap melanggar kode etik tersebut, maka dia akan diperiksa oleh Majelis Kode Etik Kedokteran Indonesia, bukannya oleh pengadilan.

Kode etik Pustakawan dibuat oleh Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). Pustakawan yang menjadi anggota profesi adalah pustakawan yang telah sepakat bergabung dalam organisasi profesi IPI, sehingga setiap anggota profesi harus melaksanakan tunduk dan taat pada Kode Etik Pustakawan Indonesia.  Dengan demikian Kode Etik Pustakawan Indonesia adalah menjadi milik seluruh anggota profesi pustakawan.

Secara garis besar Kode Etik Pustakawan Indonesia (KEPI) dibagi menjadi tiga bagian yaitu : pembukaan, kewajiban-kewajiban pustakawan dan sanksi pelanggaran kode etik.

  1. Pembukaan

“Pustakawan Indonesia adalah seseorang yang berkarya secara professional di bidang perpustakaan dan dokumentasi, yang sadar pentingnya sosialisasi profesi pustakawan kepada masyarakat luas dan perlu menyususn etika sebagai pedoman kerja”

  1. Kewajiban-kewajiban pustakawan
  2. “Pustakawan menjaga martabat dan moral serta mengutamakan pengabdian dan tanggung jawab kepada instansi tempat bekerja, bangsa dan Negara”.
  3. “Pustakawan melaksanakan pelayanan perpustakaan dan informasi kepada setiap pengguna secara cepat, tepat dan akurat sesuai dengan prosedur pelayanan perpustakaan, santun dan tulus”
  4. “Pustakawan melindungi kerahasiaan dan privasi menyangkut informasi yang ditemui atau dicari dan bahan pustaka yang diperiksa atau dipinjam pengguna perpustakaan”.
  5. “Pustakawan ikut ambil bagian dalam kegiatan yang diselenggarakan masyarakat dan lingkungan tempat bekerja terutama yang berkaitan dengan pendidikan, usaha sosial dan kebudayaan”.
  6. “Pustakawan berusaha menciptakan citra perpustakaan yang baik di mata masyarakat”
  7. “Pustakawan melaksanakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Pustakawan  Indonesia dan Kode Etik Pustakawan Indonesia”
  8. “Pustakawan memegang prinsio kebebsan intelektual dan menjauhkan diri dari usaha sensor sumber bahan perpustakaan dan informasi”
  9. “Pustakawan menyadari dan menghormati hak milik intelektual yang berkaitan dengan bahan perpustakaan dan informasi”
  10. “Pustakwan memperlakukan rekan sekerja berdasarkan sikap saling menghormati dan bersikap adil kepada rekan sejawat serta berusaha meningkatkan kesejahteraan mereka”
  11. “Pustakawan menghindarkan diri dari menyalahgunakan fasilitas perpustakaan untuk kepentingan pribadi, rekan sekerja dan pengguna tertentu”
  12. “Pustakawan dapat memisahkan antara kepentingan pribadi dan kegiatan profesional kepustakawanan”
  13. “Pustakawan berusaha meningkatkan dan memperluas pengetahuan. Kemampuan diri dan profesionalisme”
  14. Sanksi-sanksi

“Pustakawan yang melanggar AD/ART IP dan KEPI dikenai sanksi sesuai dengan pelanggarannya, dan dapat diajukan ke Dewan Kehormatan Ikatan Pustakawan Indonesia untuk keputusan lebih lanjut. Kode etik ini berlaku tiga bulan setelah ditetapkan

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Dari hasil diskusi kami dapat menyimpulkan sebagai berikut :

  1. Pustakawan adalah orang yang memiliki pendidikan perpustakaan atau ahli perpustakaan atau tenaga profesional di bidang perpustakaan dan bekerja di perpustakaan
  2. Profesi pustakawan diataur dalam peraturan undang-undang salah satunya: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 3 Tahun 2001 Tentang Perpustakaan Desa/Kelurahan Menteri Dalam Negeri dan Otonmi Daerah, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1990 Tentang Serah-         Simpan Karya Cetak Dan Karya Rekam, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Pelaksanaan Serah-Simpan Dan Pengelolaan Karya Rekam Film Ceritera Atau       Film Dokumenter
  3. Tugas pustakawan tingkat terampil: pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka atau sumber Informasi, pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi, dan informasi.

Tugas pustakawan tingkat ahli: sama dengan tugas pustakawan tingkat terampil tetapi ditambah dengan pengkajian pengembangan perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://febriyani23.blogspot.co.id/2013/11/definisi-pustakawan.html (dinduh tanggal 3 September 2015, 19.10)

http://kelembagaan.perpusnas.go.id/beranda/faq/index.php?box=dtl&id=48&from_box=lst&hlm=1&search_ruas=&search_lingkup=&search_activation=&search_keyword=(dinduh tanggal 3 September 2015, 19.13)

http://renryuk.blogspot.co.id/2011/10/pustakawan.html(dinduh tanggal 3 September 2015, 19.15)

http://sitiapriyani01.blogspot.co.id/2013/10/makalah-pustakawan.html(dinduh tanggal 3 September 2015, 19.18)

http://agustianifw.blogspot.co.id/2015/01/tupoksi-tugas-pokok-dan-fungsi.html(dinduh tanggal 3 September 2015, 19.30)

 

 

 

 

 

 

 

CONTOH MAKALAH PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA

MAKALAH

“PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah PMPM

Dosen Pengampu : Kintoko, S.Pd., M.Pd.

 

logo

 

RETNO ARGIANTI

14144100146

IVA3

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKNAN UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA 2016

 

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan hidayah dan karunia-Nya sehingga makalah  pembelajaran ini dapat terselesaikan. Makalah ini disusun sebagai tugas mandiri mata kuliah pengembangan media pembelajaran matematika.

Namun penulis menyadari laporan ini tidak dapat tersusun dan terselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

  1. Kintoko, S.Pd, M.Pd selaku dosen mata kuliah pengembangan media pembelajaran matematika.
  2. Orang tua serta teman-teman yang sudah membantu.

Saran dan kritik dari pembaca sangat penulis harapkan  untuk perbaikan makalah ini karena penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan semoga makalah pembelajaran ini bermanfaat bagi pembacanya.

 

 

 

Yogyakarta, 7 Maret 2016

Penulis,

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. 3

BAB I. 4

PENDAHULUAN.. 4

  1. Latar belakang. 4
  2. Rumusan Masalah. 4
  3. Tujuan. 4

BAB II. 5

PEMBAHASAN.. 5

  1. Pengertian. 5
  2. Jenis media pembelajaran. 6
  3. Karakteristik media pembelajaran. 10
  4. Fungsi media pembelajaran. 15
  5. Manfaat media pembelajaran. 16

BAB III. 18

PENUTUP. 18

  1. Kesimpulan. 18
  2. Kritik dan Saran. 18

DAFTAR PUSTAKA.. 19

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar belakang

Media pembelajaran merupakan komponen intruksional yang meliputi pesan, orang, dan peralatan. Dengan masuknya berbagai pengaruh ke dalam dunia pendidikan,  media pembelajaran terus mengalami perkembangan dan terampil dalam berbagai jenis dan format, dengan masing-masing ciri dan karakteristiknya. Dari sinilah kemudia timbul usaha-usaha untuk melakukan klasifikasi atau pengelompokan media yang mengarah pada pembuatan taksonomi media pendidikan  ataupun pembelajaran.

Berdasarkan pemahaman atas klasifikasi media pembelajaran akan mempermudah para guru atau praktisi lainnya dalam melakukan pemilihan media yang tepat pada waktu merencanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu dan menekan kegagalan dalam pembelajaran. Pemilihan media yang disesuaikan dengan tujuan, materi, serta kemampuan dan karakteristik belajar, akan sangat menunjang efisiensi dan efektifitas proses dan hasil pembelajaran.

 

B.     Rumusan Masalah

  1. Sebutkan jenis-jenis media pembelajaran !
  2. Uraikan klasifikasi media pembelajaran !
  3. Jelaskan karakteristik media pembelajaran !

 

C.    Tujuan

  1. Untuk mengetahui jenis dan karakteristik media pembelajaran
  2. Untuk mengetahui fungsi media pembelajaran
  3. Untuk mengetahui manfaat media pembelajara

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian

Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar merupakan komunikasi antar  individu  / kelompok untuk memberikan suatu ilmu pengetahuan. Agar maksud si narasumber –dalam hal ini guru- tersampaikan dengan baik, dibutuhkan suatu media pembelajaran.

Pengertian Menurut Para Ahli

  1. Briggs  (1977)  Media  Pembelajaran  adalah  sarana  fisik  untuk  menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya.
  2. National Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah  sarana  komunikasi  dalam  bentuk  cetak maupun  pandang-dengar,  termasuk teknologi perangkat keras.
  3. Schramm  (1977)  mengemukakan  bahwa  media  pembelajaran  adalah  teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
  4. Latuheru(1988:14),  menyatakan  bahwa  media  pembelajaran  adalah  bahan,  alat, atau  teknik  yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses  interaksi  komunikasi  edukasi  antara  guru  dan  siswa  dapat  berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna.
  5. Djamarah  (1995  :  136)  “Media  adalah  alat  bantu  apa  saja  yang  dapat  dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”
  6. Purnamawati  dan  Eldarni  (2001  :  4  sumber  tidak  diketah) yaitu  : “media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”

Dari pendapat diatas disimpulkan bahwa media  pembelajaran  adalah  segala  sesuatu yang  dapat  menyalurkan  maksud/pengetahun  narasumber  agar  para  audiens/pendengar  akan  tertarik  untuk mendengar  dan merangsang  pikiran  serta  kemauannya untuk belajar atau memperhatikan.

B.     Jenis media pembelajaran

  1. Jenis media pembelajaran, Berbagai sudut pandang untuk menggolongkan jenis-jenis media. Menggolongkan media berdasarkan tiga unsur pokok (suara, visual dan gerak):
  2. Media audio
  3. Media cetak
  4. Media visual diam
  5. Media visual gerak
  6. Media audio semi gerak
  7. Media visual semi gerak
  8. Media audio visual diam
  9. Media audio visual gerak

Anderson (1976) menggolongkan menjadi 10 media:

  1. Audio: Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
  2. Cetak: buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar
  3. Audio-cetak: kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
  4. Proyeksi visual diam: Overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)
  5. Proyeksi audio visual diam : film bingkai slide bersuara
  6. Visual gerak: film bisu
  7. Audio visual gerak: film gerak bersuara, Video/VCD, Televisi
  8. Objek fisik: Benda nyata, model, specimen
  9. Manusia dan lingkungan: guru, pustakawan, laboran
  10. Komputer: CAI

            Berdasarkan kompleks suara, yaitu: media kompleks (film, TV, Video/VCD,) dan media sederhana (slide, audio, transparansi, teks). Selain itu menggolongkan media berdasarkan jangkauannya, yaitu media masal (liputannya luas dan serentak/radio, televisi), media kelompok (liputannya seluas ruangan/kaset audio, video, OHP, slide, dll), media individual (untuk perorangan/buku teks, telepon, CAI). Henrich, dkk menggolongkan:

  1. Media yang tidak diproyeksikan
  2. Media yang diproyeksikan
  3. Media audio
  4. Media video
  5. Media berbasis computer
  6. Multi media kit.

Media akan diklasifikasikan menjadi media visual, media audio, dan media audio-visual:

  1. Media Visual

Media yang tidak diproyeksikan

  • Media realita adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke objek. Kelebihan dari media realita ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
  • Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan.
  • Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:
  1. Gambar / foto: paling umum digunakan
  2. Sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.
  3. Diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.
  4. Bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.
  5. Grafik: gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari pertumbuhan.

Media proyeksi

  • Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy /OHT) dan perangkat keras (Overhead projector /OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
  1. Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
  2. Membuat sendiri secara manual
  3. Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.
  4. Media Audio
  5. Radio

      Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan peristiwa-peristiwa penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan sebagainya. Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif.

  1. Kaset-audio

      Yang dibahas disini khusus kaset audio yang sering digunakan di sekolah. Keuntungannya adalah merupakan media yang ekonomis karena biaya pengadaan dan perawatan murah

  1. Media Audio-Visual
  • Media video

Merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD.

  • Media computer

            Media ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan hanya searah. Bahkan komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasaan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas.

C.    Karakteristik media pembelajaran

Secara garis besar, unsur-unsur yang terdapat pada media visual terdiri dari garis, bentuk, warna, dan tekstur (Arsyad, 1997). Untuk memberi kesan penekanan, juga untuk membangun kemenarikan dan keterpaduan, bahkan dapat mempertinggi realisme dan menciptakan respon emosional diperlukan warna. Sementara, tekstur digunakan untuk menimbulkan kesan kasar dan halus, juga untuk menambah penekanan sebagaimana halnya warna. Dalam mengembangkan sebuah media pembelajaran, perlu diperhatikan beberapa prinsip agar media tersebut memberikan pengaruh efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Meyer (2009) menyebutkan sepuluh prinsip,yang secara rinci tercantum dalam bukunya “Multimedia Learning”. Selanjutnya, Arsyad (1997) menyatakan simbol pesan visual hendaknya memiliki prinsip kesederhanaan, keterpaduan dan penekanan.

  1. Kesederhanaan secara umum mengacu kepada sejumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual. Jumlah elemen yang lebih sedikit memudahkan peserta didik menangkap dan memahami pesan yang disajikan visual itu. Pesan atau informasi yang panjang dan rumit harus dibagi ke dalam beberapa bahan visual yang mudah dipahami. Kata¬-kata harus memakai huruf yang sederhana dengan gaya huruf yang mudah terbaca dan tidak terlalu beragam dalam satu tampilan atau serangkaian tampilan visual.
  2. Meskipun penyajian visual dirancang sesederhana mungkin, seringkali konsep yang ingin disajikan memerlukan penekanan terhadap salah satu unsur yang akan menjadi pusat perhatian peserta didik. Dengan menggunakan ukuran, hubungan- hubungan, perspektif, warna atau ruang penerangan dapat diberikan unsur penting.
  3. la mengacu kepada hubungan yang terdapat di antara elemen-elemen visual yang ketika diamati akan berfungsi bersama-sama. Elemen-elemen itu harus saling terkait dan menyatu sebagai suatu keseluruhan yang dapat dikenal dan dapat membantu pemahaman pesan dan informasi yang dikandungnya. Misalnya, jika kita menginformasikan tentang guru yang sedang mengajar di kelas, maka elemen-elemen yang terkandung dalam informasi itu harus ada, seperti guru itu sendiri, siswa, bangku, papan tulis, media, dll.
  4. MediaVisual Non Proyeksi

Media visual nonproyeksi merupakan jenis media yang sering digunakan dalam pembelajaran karena penggunaannya sederhana, tidak memerlukan banyak kelengkapan dan relatif tidak mahal. Media visual nonproyeksi dapat menterjemahkan ide abstrak menjadi lebih realistik. Beberapa jenis media visual nonproyeksi yang sering digunakan dalam pembelajaran antara lain: benda realita (real object) atau benda nyata, model dan prototipe dan media grafis.
Beberapa jenis media visual nonproyeksi yang sering digunakan dalam pembelajaran antara lain: benda realita (real object) atau benda nyata, model dan prototipe dan media grafis.

  • Benda Realita (Banda Nyata)

Benda nyata adalah benda yang dapat dilihat, didengar atau dialami oleh peserta didik sehingga memberikan pengalaman langsung kepada mereka. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas ketika proses pembelajaran berlangsung, tetapi siswa dapat melihat langsung ke lokasi obyek. Sebagai contoh, untuk mempelajari keanekaragaman hayati, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem,.dan organ tanaman, siswa bisa mengamatinya langsung di lokasi atau habitatnya, misalnya melalui kunjungan atau studi lapangan.

  • Model dan Prototipe

Model dan prototipe adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model atau prototipe dalam pembelajaran untuk mengatasi keterbatasan ketersediaan benda realia, baik keterbatasan karena alasan biaya maupun karena sulit dijangkau. Misalnya, untuk mempelajari letak geografis wilayah di planet bumi diperlukan model berupa globe bumi.

  • Media Cetak

Media cetak adalah media pembelajaran yang disajikan dalam bentuk tercetak (prited media). Media jenis ini termasuk kelompok media yang paling tua dan banyak digunakan dalam proses pembelajaran karena praktis penggunaannya dan tersedia di banyak tempat. Beberapa contoh media cetak adalah buku teks, modul, majalah dan sejenisnya.

  • Media Grafis

Media grafis menyalurkan pesan dan informasi melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media gratis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan apanila hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Beberapa contoh media grafis antara lain: gambar, kartun, karikatur, grafik, diagram, dan lain-lain.

  1. Media Visual Proyeksi

Berkembangnya produk-produk teknologi informasi dan komunikasi, dan komputer dewasa ini, memungkinkan media visual pembelajaran dapat ditampilkan dengan alat proyeksi (projektor). Proyektor berfungsi untuk menampilkan objek-objek atau ilustrasi pada layar proyeksi atau layar monitor dengan ukuran yang lebih besar dari ukuran sebenarnya, sehingga mudah dilihat dan diamati oleh seluruh peserta didik dalam satu kegiatan pembelajaran. Media visual proyeksi dapat dibuat dari kreasi hasil pemotretan menggunakan kamera dan hasil kreasi tanpa kamera melainkan menggunakan program aplikasi yang tersedia dalam berbagai macam seperti Powerpoint, ChennDraw, AutoCad, Paint dan lain-lain.

  1. Media Audio

Media audio adalah media yang isi pesannya hanya diterima melalui indera pendengaran saja. Media audio berfungsi merekam dan memancarkan suara manusia, binatang, dll dan untuk tujuan interview. Media audio digunakan dalam pengembangan keterampilan-keterampilan mendengarkan untuk pesan-pesan lisan atau informasi yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif berupa kata-kata, musik, dan efek suara (sound effect). Media audio memiliki jenis dan bentuk yang bervariasi, di antaranya adalah radio, piringan hitam, pita kaset suara, compact disc (CD). Pesan-pesan dapat juga dipengaruhi oleh keterampilan-keterampilan mendengarkan dari si penerima pesan. Penerima pesan harus mampu mengarahkan dan mendukung konsentrasinya pada suatu rangkaian informasi yang didengarnya. Dan seringkali kita berpikir lebih cepat dari pada membaca dan menulis dan menggunakan. Seorang pendengar yang baik perlu mengembangkan keterampilan untuk mengorganisasikan dan menyimpan informasi, sehingga pesan atau informasi disimpan di dalam ingakatan jangka panjang (long term memory) bertahan lama. Hal itu akan terjadi jika: pengirim pesan (komunikator) menyampaikan pesan dengan jelas dan logis, maka penerima pesan (komunikan) akan memahami pesan yang disampaikan oleh komunikator dengan baik

  1. Media Audio-Visual

Media ini dapat menampilkan unsur gambar (visual) dan suara (audio) secara bersamaan pada saat mengkomunikasikan pesan atau informasi. Media audio-visual terbagi dua macam, yakni:

  1. Audio visual murni yaitu balk unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu satu sumber seperti video kaset.
  2. Audio visual tidak murni yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal-dari cumber yang berbeda. Misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya berasal dari slides proyektor dan unsur suaranya berasal dari tape recorder. Media video dapat diklasifikasikan sebagai media audio-visual. Walau bentuk fisiknya berbeda, media ini memiliki kesamaan dengan film, yakni sama-sama mampu menayangkan gambar bergerak. Media video telah banyak digunakan untuk berbagai keperluan mulai dari hiburan, sampai bidang pendidikan dan pembelajaran. Media ini dapat mengungkapkan objek dan peristiwa seperti keadaan yang sesungguhnya. Perencanaan yang baik dalann menggunakan media video akan membuat proses komunikasi (pembelajaran) menjadi lebih efektif.

D.    Fungsi media pembelajaran

Ada dua fungsi utama media pembelajaran yang perlu kita ketahui. Fungsi pertama media adalah sebagai alat bantu pembelajaran, dan fungsi kedua adalah sebagai media sumber belajar. Kedua fungsi utama tersebut dapat ditelaah dalam ulasan di bawah ini:

  1. Media pembelajaran sebagai alat bantu dalam pembelajaran
    Tentunya kita tahu bahwa setiap materi ajar memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada materi ajar yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi di lain pihak ada materi ajar yang sangat memerlukan alat bantu berupa media pembelajaran. Media pembelajaran yang dimaksud antara lain berupa globe, grafik, gambar, dan sebagainya. Materi ajar dengan tingkat kesukaran yang tinggi tentu sukar dipahami oleh siswa. Tanpa bantuan media, maka materi ajar menjadi sukar dicerna dan dipahami oleh setiap siswa. Hal ini akan semakin terasa apabila materi ajar tersebut abstrak dan rumit/kompleks. Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pembelajaran. Hal ini dilandasi keyakinan bahwa kegiatan pembelajaran dengan bantuan media mempertinggi kualitas kegiatan belajar siswa dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti, kegiatan belajar siswa dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media.
  2. Media pembelajaran sebagai sumber belajar Sekarang Anda menelaah media sebagai sumber belajar. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat bahan pembelajaran untuk belajar peserta didik tersebut berasal. Sumber belajar dapat dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu manusia, buku perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan. Media pendidikan, sebagai salah satu sumber belajar, ikut membantu guru dalam memudahkan tercapainya pemahaman materi ajar oleh siswa, serta dapat memperkaya wawasan siswa.

 

E.     Manfaat media pembelajaran

Salah satu alasan penggunaan media pembelajaran adalah terkait dengan manfaat media pembelajaran bagi keberhasilan belajar mengajar di kelas. Salah satu aspek yang menentukan keberhasilan dalam belajar mengajar adalah pemilihan media pembelajaran yang tepat.

Menurut Hamalik (1986), media pembelajaran yang tepat dapat membangkitkan motivasi, keinginan minat, dan rangsangan kepada siswa. Sehingga dapat membantu pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, memadatkan informasi.

Adapun mengapa media pembelajaran yang tepat dapat membawa keberhasilan belajar dan mengajar di kelas, menurut Levie dan Lentz (1982), itu karena media pembelajaran khususnya media visual memiliki empat fungsi yaitu:

  1. Fungsi atensi, yaitu dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi dan pelajaran.
  2. Fungsi afektif, yaitu dapat menggugah emosi dan sikap siswa.
  3. Fungsi kognitif, yaitu memperlancar tujuan untuk memahami dan mengingat informasi/pesan yang terkandung dalam gambar.
  4. Fungsi compensations, yaitu dapat mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau secara verbal.

Alasan-alasan mengapa media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa yaitu:

  1. Alasan yang pertama yaitu berkenaan dengan menfaat media pengajaran itu sendiri, antara lain:
  2. Pengajaran lebih menarik perhatian siswa, sehingga menumbuhkan motivasi belajar.
  3. Bahan pengajaran lebih jelas maknanya, sehingga dapat menguasai tujuan pembelajaran dengan baik.
  • Metode pengajaran akan bervariasi
  1. Siswa dapat lebih banyak melakukan aktivitas belajar, seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.
  2. Alasan kedua yaitu sesuai dengan taraf berpikir siswa. Dimulai dari taraf berfikir konkret menuju abstrak, dimulai dari yang sederhana menuju berfikir yang kompleks. Sebab dengan adanya media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat dikonkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan. Itulah beberapa alasan mengapa media pembelajaran dapat mempertinggi keberhasilan dalam proses belajar mengajar.

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

  1. Sudah sangat banyak ragam dan format media yang dikembangkan dan diproduksi untuk pembelajaran, namum pada dasarnya media tersebut dapat di kelompokkan menjadi empat jenis, yaitu : Media Audio, media visual, media audio-visual, dan multimedia.
  2. Pengelompokan media pembelajaran itu sangatlah penting. Media pembelajaran diklasifikasikan berdasarkan ciri fisik, berdasarkan pengalaman belajar, berdasarkan persepsi indera, berdasarkan pengunaan, dan berdasarkan manfaat atau hirarki.
  3. Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik masing-masing itu semua berdasarkan dari jenis media pembelajaran.

B.     Kritik dan Saran

Demikian makalah Pengembangan Media Pembelajaran Matematika yang dapat kami paparkan. Semoga barmanfaat. Dan tentunya makalah ini tidak terlepas dari kesalahan, kekurangan, dan kekeliruan. Oleh karena itu penulis memohpon kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan makalah selanjutnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Lestari, Tuti. 2013. Jenis dan Karakteristik Media Pembelajaran. Diakses pada 6 Maret 2016 (http://thutylestari.wordpress.com/2013/11/20/jenis-dan-karakteristik-media-pembelajaran/)

-. Diakses pada 6 Maret 2016 (www.etunas.com/web/jenis-media-dan-karakteristiknya.htm)

Multazam, Ahmad. 2013. Klasifikasi dan Karakteristik Media Pembelajaran. Diakses pada 6 Maret 2016 (multazam-einstein.blogspot.co.id/)

Apriyadi, Resha. 2012. Manfaat dan Karakteristik Media Pembelajaran. Diakses pada 6 Maret 2016 (resha-adalah-resha.blogspot.co.id/2012/06/pengertian-jenis-jenis-manfaat-dan.html)

ANGKET PENILAIAN GURU OLEH SISWA

SKALA PENILAIAN GURU OLEH SISWA

Mata Pelajaran : …..

Nama Siswa    : …..

Tanggal           : …..

Petunjuk 1 :

Berdasarkan pengamatan anda terhadap Ibu Guru tersebut, berikan penilaian antara SS – TP pada pernyataan dibawah ini dengan tanda v, dengan keterangan sebagai berikut:

SS        : Sangat Sering KD      : Kadang – Kadang
S          : Sering TP        : Tidak Pernah
NO PERNYATAAN SS S KD TP

1

Memulai pembelajaran dengan salam atau doa        

2

Menanyakan siswa yang tidak berangkat        

3

Berusaha untuk mengetahui dan memperhatikan keadaan siswa        

4

Mampu menguasai materi pembelajaran        

5

Member semangat dan motivasi.        

6

Guru memanfaatkan sumber belajar/media dalam pembelajaran        

7

Memicu keaktifan siswa dalam pembelajaran        

8

Penyampaian materi menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran        

9

Membahas soal sulit ketika materi telah selesai disampaikan        

10

Memberi PR mengenai materi yang disampaikan        

11

Memeriksa PR yang diberikan sebelumnya        

12

Memperhatikan respon siswa yang belum/kurang memahami materi pembelajaran yang disampaikan        

13

Menanggapi pertanyaan siswa secara tepat, benar, dan mutakhir        

14

Memperlakukan siswa secara adil, memberikan perhatian dan bantuan tanpa memperdulikan factor personal        

15

Membuat suasana menyenangkan tetapi tetap tertib        

16

Member nilai tidak pilih kasih        

17

Mengelola kelas dengan efektif tanpa mendominasi kesibukannya sendiri        

18

Mengawali dan menghakhiri pembelajaran tepat waktu        

 

 

 

LAPORAN OBSERVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SMA GIRIMULYO KULON PROGO

MAKALAH

“OBSERVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA”

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Strategi Pembelajaran

Dosen pengampu : Dra. M.M Endang Susetyawati, M.Pd.

 logo

 

Disusun oleh

Retno Argianti           (14144100146)

Kelas : IIIA3

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

2015

TWSJRDCYHJ.png

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan hidayah dan karunia-Nya sehingga laporan hasil observasi  pelaksanaan pembelajaran ini dapat terselesaikan. Laporan ini disusun sebagai tugas mandiri mata kuliah strategi pembelajaran matematika dari hasil kegiatan observasi di SMA N 1 Girimulyo.

Namun penulis menyadari laporan ini tidak dapat tersusun dan terselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

  1. Selaku Kepala SMA N 1 Girimulyo yang berkenan memberikan ijin untuk mengadakan observasi di sekolah tersebut.
  2. Ibu Purwati, S.Pd selaku guru matematika kelas X yang telah bersedia menjadi objek pengamatan sekaligus narasumber untuk observasi.
  3. M.M Endang Susetyawati, M.Pd selaku dosen matakuliah strategi pembelajaran matematika.
  4. Siswa kelas X SMA N 1 Girimulyo dan seluruh warga SMA N 1 Girimulyo serta teman-teman yang sudah membantu.

Saran dan kritik dari pembaca sangat penulis harapkan  untuk perbaikan laporan observasi ini karena penulis menyadari bahwa laporan observasi ini masih banyak kekurangan semogalaporan observasi ini bermanfaat bagi pembacanya.

Yogyakarta, 5 Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI. iv

PENDAHULUAN.. 4

  1. Tujuan Observasi 4
  2. Tempat Observasi 5
  3. Sumber Data. 5

PEMBAHASAN.. 6

  1. Materi Observasi 6
  2. Hasil Observasi 10

PENUTUP. 17

  1. Faktor Pendukung. 17
  2. Faktor Kendala. 18

LAMPIRAN.. Error! Bookmark not defined.

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Tujuan Observasi

Diadakannya observasi ini untuk melihat secara langsung pembelajaran matematika di dalam kelas yang dapat menambah pengetahuan dan pengalaman. Selain itu untuk mengetahui secara langsung 14 langkah dalam mempersiapkan pembelajaran matematika dengan menggunakan berbagai cara atau metode yang dapat membantu proses pembelajaran di dalam kelas. Selain itu, siswa juga dapat merasakan pembelajaran yang tidak membosankan bagi dirinya.

Maka dari itu, dalam kesempatan ini saya menyusun laporan observasi dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Strategi Pembelajaran Matematika.
  2. Untuk mengetahui aktivitas dalam mempersiapkan pembelajaran oleh seorang guru matematika kelas X di SMA Negeri 1 Girimulyo.
  3. Untuk mengetahui proses pembelajaran matematika kelas X di SMA Negeri 1 Girimulyo.

Diadakannya observasi ini untuk melihat secara langsung pembelajaran matematika di dalam kelas yang dapat menambah pengetahuan dan pengalaman. Selain itu untuk mengetahui secara langsung 14 langkah dalam mempersiapkan pembelajaran matematika dengan menggunakan berbagai cara atau metode yang dapat membantu proses pembelajaran di dalam kelas. Selain itu, siswa juga dapat merasakan pembelajaran yang tidak membosankan bagi dirinya.

Maka dari itu, dalam kesempatan ini saya menyusun laporan observasi dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Strategi Pembelajaran Matematika.
  2. Untuk mengetahui aktivitas dalam mempersiapkan pembelajaran oleh seorang guru matematika kelas X di SMA Negeri 1 Girimulyo.
  3. Untuk mengetahui proses pembelajaran matematika kelas X di SMA Negeri 1 Girimulyo.

B.     Tempat Observasi

Sekolah           : SMA N 1 Girimulyo

Alamat            : Jl Kiskendo, Girimulyo, Kulon Progo

Tel/fax             : (0274) 7497440

C.    Sumber Data

Data yang digunakan dalam penyusunan laporan hasil observasi diperoleh melalui observasi langsung, wawancara dengan guru, dan angket.

  • Identitas Guru (Narasumber)

Nama                                    : Purwati, S.Pd

NIP                                          : 19710919 200501 2 010

Tempat, Tanggal Lahir     : Bantul, 19 September 1971

Alamat                                    : Panggang, Argomulyo, Sedayu, Bantul

Guru bidang studi                : Matematika

Masa kerja                              : 10 tahun

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Materi Observasi

Materi yang dijadikan sebagai bahan observasi yaitu kegiatan guru dalam pembelajaran dikelas. Kegiatan tersebut terdiri dari 14 aspek, yaitu:

  • Mathemarics Content
    • Menyeleksi dan menamai topik pembelajaran
    • Identifikasi objek-objek metematika dalam topik
    • Mengurutkan setiap toik dalam hirarki topik
  • Tujuan Pembelajaran
    • Identifikasi tujuan kognitif
    • Identifikasi tujuan afektif
    • Menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa
  • Hasil Pembelajaran
    • Menyiapkan materi pembelajaran
    • Mendapatkan sumber belajar (Buku, Internet, dan lain-lain)
  • Stategi Pretes
    • Mengidentifikasi pengetahuan prasyara
    • Mengukur kesiapan siswa untuk mempelajari topik
  • Strategi Pembelajaran
    • Memilih strategi pembelajaran
    • Mengelola lingkungan belajar
  • Strategi Penilaian Akhir
    • Menilai siswa belajar
    • Mengevaluasi aktifitas pembelajaran

Materi yang disampaikan saat observasi berlangsung adalah PERTIDAKSAMAAN SATU VARIABEL

A. Pengertian Selang dan Penyelesaian Pertidaksamaan Linear

  1. Pengertian Selang

Selang atau interval dapat dinyatakan dalam garis bilangan dan himpunan. Untuk menentukan batas-batas interval pada garis bilangan digunakan tanda berikut.

Tanda • jika bilangan pada tanda ini masuk ke dalam interval.

Tanda ᴏ jika bilangan pada tanda ini tidak masuk ke dalam interval.

Bagian garis yang menyatakan selang digambar dengan garis yang lebih tebal atau dengan member arsiran di atas garis tersebut.

Berikut adalah berbagai bentuk selang yang dinyatakan dengan garis bilangan dan himpunan.

123

1234

2. Penyelesaian Pertidaksamaan Linear

Pertidaksaaman linear adalah suatu pertidaksamaan yang memuat peubah-peubah yang berpangkat satu.

Contoh:

  1. 3x – 1 > 0, merupakan pertidaksamaan linier dengan satu peubah, yaitu x.
  2. 2x + 5y < 3, merupakan pertidaksamaan linier dengan dua peubah, yaitu x dan y.
  3. x + 2y – z ≥ 1, merupakan pertidaksamaan linear dengan tiga peubah, yaitu x, y, dan z.

Untuk  selanjutnya yang akan kita  pelajari hanyalah pertidaksamaan liniar dengan satu peubah.

Menyelesaikan pertidaksamaan linear berarti menentukan nilai peubah yang memenuhi pertidaksamaan tersebut dengan cara menyederhanakan bentuk pertidaksamaan. Berikut sifat-sifat pertidaksamaan yang digunakan untuk menyederhanakan pertidaksamaan.

  1. Suatu pertidaksamaan jika kedua ruasnya ditambah atau dikurangi dengan bilangan yang sama, diperoleh pertidaksamaan baru yang ekuivalen dengan pertidaksamaan semula.
  2. Suatu pertidaksamaan jika kedua ruasnya dikalikan dengan suatu bilangan positif yang sama, diperoleh pertidaksamaan baru yang ekuivalen dengan pertidaksamaan semula.
  3. Suatu pertidaksamaan jika kedua ruasnya dikaliakn dengan suatu bilanagn negative yang sama, diperoleh pertidaksamaan baru. Pertidaksamaan baru itu ekuivalem dengan pertidaksamaan semula jika arah dari tanda pertidaksamaan itu dibalik.

Penyelesasian dari pertidaksamaan berupa interval atau selang bilangan nyata yang dapat digambarkan pada garis bilangan.

  1. Pertidaksamaan Pecahan

Pertidaksamaan pecahan adalah pertidaksamaan yang terdiri dari pembilang dan penyebut dimana bagian penyebutnya memuat variabel. Untuk menyelesaikan pertidaksamaan pecahan diperlukan langkah-langkah berikut.

  1. Jadikan ruas kanan sama dengan nol.
  2. Sederhanakan bentuk ruas kiri sehingga menjadi sebuah pecahan.
  3. Menentukan harga nol pembilang dan penyebut.
  4. Meletakkan harga nol pembilang dan penyebut dalam suatu garis dan menentukan tandanya.
  5. Menentukan penyelesaian.

Catatan:

  1. Tanda = pada penyelesaian hanya boleh dipakai pada harga nol yang asalnya dari pembilang karena pecahan yang penyebutnya sama dengan nol tidak terdefinisi.
  2. Hasil bagi dua bilangan mempunyai tanda yang sama dengan hasil perkaliannya, misalnya  akan sama penyelesaiannya dengan (x + 3)(x – 5) < 0.

A.    Hasil Observasi

  1. Hari Pertama (Ijin)

Pada hari pertama saya belum melakukan observasi. Saya baru meminta ijin kepada Kepala Sekolah SMA N 1 Girimulyo untuk melaksanakan di SMA tersebut. Ternyata pada hari itu beliau sedang ada undangan rapat dan tidak bisa ditemui. Kemudian guru piket memberi tahu bahwa saya dapat mendapat ijin dari Kesiswaan, maka dari itu saya harus menemui kesiswaan. Nama kesiswaan di SMA N 1 Girimulyo yaitu Bapak Hendra, beliau segera menyambut saya dengan ramah. Setelah berbincang-bincang dan mengatakan tujuan saya datang ke SMA tersebut, Bapak Hendra menyambut dengan senang. Beliau langsung menyetujui saya melakukan observasi di sekolah yang diampunya. Saya merasa sangat disambut dengan baik disana.

Kemudian Pak Hendra member tawaran untuk berkeliling sekolah, tetapi saya menunda karena saya harus segera menemui guru Matematika yang akan saya amati saat pembelajaran. Dengan ramahnya Pak Hendra mengantar saya menemui Ibu Purwati guru Matematika yang kebetulang sedang mengajar di kelas yang tidak jauh dari ruang saya dan Pak Hendra berada.

  1. Pertemuan Kedua (Observasi Langsung dan Angket)
    1. Observasi langsung

Pada hari kedua , saya melakukan observasi langsung di kelas X-3. Pelajaran dimulai pukul 09:45-11:15 WIB. Saat observasi saya memperhatikan cara guru dalam melakukan pembelajaran dikelas.

Pada awal pembelajaran guru membuka dengan salam dan doa. Selanjutnya guru mengabsen siswa yang hadir. Total siswa yang hadir ada 21 dari 23 siswa, yang 2 siswa ijin untuk tidak mengikuti pembelajara hari itu. Kemudian guru berkeliling untuk memeriksa pekerjaan rumah yang diberikan minggu lalu. Tugas itu seharusnya dikerjakan semua siswa tapi hanya setengah siswa yang mengerjakan dan sisanya tidak mengerjakan. Yang tidak mengerjakan PR didominasi oleh siswa laki-laki. Selanjutnya guru bertanya alasan siswa lain tidak mengerjakan PR. Ada berbagai alasan yang diberikan siswa. Sebagai konsekuensinya, guru memberikan soal dari LKS kepada siswa untuk dikerjakan langsung dipapan tulis tanpa bantuan guru atau teman lainnya. Selanjutnya siswa mempresentasikan hasilnya dan menjelaskan kepada teman-teman lain. Setelah mempresentasikan, guru menjelaskan kembali hasil pekerjaan siswa dan menghubungkannya dengan materi sebelumnya. Pada akhir pertemuan siswa diminta mengerjakan soal dari LKS untuk latihan dirumah.

2. Angket

Sebelum pembelajaran usai, guru memberi waktu lima menit saya untuk menyebar angket kepada siswa. Sungguh mengesankan, siswa sangat antusias dalam pengisian angket

12345.png

tersebut. Ada beberapa siswa yang bahkan ingin mengisi dua angket. Berikut adalah angket yang diberikan kepada siswa beserta hasil survei:

123456

1234567

12345678.png

3. Pertemuan Ketiga (Wawancara)

Pada hari ketiga saya melaksanakan wawancara kepeda Ibu Purwati selaku guru matematika kelas X. dengan senang hati beliau bersedia untuk saya wawancarai. Berikut hasil wawancara kepada Ibu Purwati:

a. Pada pembelajran matematika kelas X, ibu menggunakan Model dan Metode apa?

Metode      : Ceramah, Tanya jawab.

Model        : Kelompok

b. Bagaimana cara menyeleksi dan menamai topik pembelajaran?

Dengan silabus, didalam silabus ada SK dan KD. Kadang-kadang tidak sampai 1 KD karena kondisi anak terkendala dalam pemahaman masalah, misalnya mengerjakan soal cerita.

c. Sumber belajar yang ibu dapat dari mana saja?

Sumber didapat dari buku-buku. Sumber juga dari LKS untuk tunjangan soal-soal. Untuk pembelajaran matematika kelas X saya lebih terfokus pada satu buku dan satu LKS, karena isi materinya saya merasa cocok. Terkadang jika saya  menggunakan banyak sumber (buku) malah kurang maksimal, karena terkadang pemahamannya dan isi materinya berbeda-beda.

d. Ibu selalu menargetkan berapa SK yang akan ibu penuhi selama satu semester?

Jika materi untuk semester 1 tidak terkejar disemester 1 maka disampaikan disemester 2 karena semester 2 jarang ada kegiatan. jika disemester 1 terkendala dengan banyak kegiatan yaitu MOS dan tonti.

e.  Jika ibu melakukan ulangan harian, berapakah siswa yang memenuhi standar KKm? Dan berapa KKm yang ibu tentukan?

Penilaian yang lolos KKM sekitar 40%. Didominasi oleh anak perempuan. KKM disekolah ini ditetapkan minimal 75.

f.  Bagaimana ibu menilai siswa? Murni dari segi akademik atau penilaian sikap juga menjadi criteria penilaian ibu?

Ya tentu. Penilaian sikap, ulangan, keaktifan, PR dinilai dari jumlah mengerjakan kemudian baru benarnya, tugas yang dikumpulkan. Tugas yang dikumpulkan ini kebanyakan mengerjakan soal-soal. Untuk kelas XII ada tugas mengumpulkan resume tentang rumus-rumus matematika dari kelas X.

g.  Pertemuan Keempat (Observasi Langsung)

Pada hari keempat , saya melakukan observasi langsung di kelas X-1. Pelajaran dimulai pukul 12.30-14:00 WIB. Pada hari keempat menjadi hari yang sangat sulit. Karena didalam kelas siswa sudah tidak kondusif, alasan dari beberapa siswa yaitu jamnya yang sudah mulai siang dan lelah. Didalam kelas suasana sudah tidak efisien, dengan metode ceramah dari guru malah semakin membuat siswa bosan. Tapi dengan tegasnya ibu guru member peringatan, barangsiapa yang tidak bisa diatur dimohon untuk meninggalkan kelas dan pada absensi akan ditulis Alpa. Dengan ancama seperti itu siswa pun kembali terkondisi. Suasana tidak kondusif diciptakan oleh siswa laki-laki yang sulit untuk diatur. Setelah pembelajaran usai, guru member peringatan dan teguran sekali lagi untuk para siswa. Sebelum pelajaran diakhiri gurupun member PR 5 soal yang ada pada buku,  dan PR akan diambil nilai untuk menambah nilai UTS.

BAB III

PENUTUP

 

A.    Faktor Pendukung

Faktor pendukung ketika melaksanakan observasi di SMA N 1 Girimulyo yaitu:

  1. Sambutan dari Kepala Sekolah yang ramah dan bersedia member ijin untuk saya melaksanakan observasi disana.
  2. Guru mata pelajaran Matematika yang sangat ramah dan menyambut kedatangan saya untuk melaksanakan observasi, pada mata pelajaran beliau.
  3. Lingkungan sekolah yang sangat nyaman dan menyenangkan
  4. Dan siswa kelas X – 1, 2, 3, 4 yang antusias untuk bekerjasama dalam pengkondisian kelas selama pembelajaran dan observasi berlangsung.

Itulah beberapa faktor pendukung ketika saya melaksanakan observasi di Sekolah tersebut.

B.     Faktor Kendala

Faktor kendala yang  dialami selama observasi adalah, jarah antar kampus dan SMA yang lumayan jauh. Kemudian mengatur jadwal kuliah dan jadwal observasi, yang sempat menyebabkan salah satu dosen kecewa kepada beberapa mahasiswa yang ijin pada saat perkuliahan beliau, untuk melaksanakan observasi.

 

 

LAMPIRAN

abcdef